Gaya Hidup

Menikah membuat lelaki menjadi langsing

Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Jepang mengungkapkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang sudah menikah cenderung tidak kelebihan berat badan dibandingkan jomlo yang mengidap penyakit gula. Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Jepang mengungkapkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang sudah menikah cenderung tidak kelebihan berat badan dibandingkan jomlo yang mengidap penyakit gula. © Pixabay

Berdasarkan penelitian terungkap bahwa menikah bisa membuat Anda panjang umur, mengurangi stres, membuat kesehatan jantung lebih baik, dan membuat kehidupan sosial dan seksual yang lebih baik. Selain itu ternyata pernikahan bisa pula berperan lebih dari sekadar ungkapan cinta dan kesetiaan.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan di Jepang mengungkapkan bahwa penderita diabetes tipe 2 yang sudah menikah cenderung tidak kelebihan berat badan dibandingkan jomlo yang mengidap penyakit gula.

Para peneliti di Yokohama City University Graduate School of Medicine dan Chigasaki Municipal Hospital menemukan fakta bahwa lelaki yang menderita diabetes yang hidup bersama pasangannya juga cenderung tidak menderita sindrom metabolisme, yaitu perpaduan dari berbagai faktor yang saling berhubungan seperti tekanan darah tinggi dan meningkatnya kadar gula yang bisa memicu serangan jantung dan stroke.

Untuk melakukan studi ini, Dr. Yoshinobu Kondo menelisik catatan medis dari 270 pasien penyakit diabetes tipe 2 sejak 2010 sampai 2016. Jumlah itu terdiri dari 180 pasien yang sudah menikah (109 lelaki, 71 perempuan) dan 90 pasien yang belum menikah (46 lelaki, 44 perempuan).

Studi yang dipresentasikan dalam European Association for the Study of Diabetes mengungkapkan bahwa orang-orang yang sudah menikah ternyata mempunyai rata-rata indeks massa tubuh yang lebih rendah (24,5) daripada BMI orang yang belum menikah (26,5). Indeks ini mengukur lemak tubuh berdasarkan tinggi dan berat badan.

Laman Healio.com mengabarkan bahwa jika dibandingkan dengan orang yang belum menikah, ternyata orang yang sudah menikah mempunyai tingkat HbA1c, ukuran tingkat gula darah (7,3 persen melawan 7 persen). Semakin kecil angkanya semakin bagus. Selain itu orang yang sudah menikah juga mempunyai tingkat sindrom metabolisme yang lebih rendah (54 persen) dibandingkan 68 persen pada orang yang belum menikah.

Setelah melakukan penyesuaian statistik akibat faktor umur dan jenis kelamin para peserta penelitian, terungkap pula bahwa orang yang sudah menikah 50 persen cenderung tidak kelebihan berat badan.

Pria yang sudah menikah dan hidup bersama pasangannya ternyata 58 persen cenderung tidak mengidap sindrom metabolisme daripada laki-laki lajang, meskipun perbedaan yang sama tidak ditemukan untuk wanita.

“Sebaliknya, menjadi lajang adalah faktor risiko untuk menderita kelebihan berat badan dan sindrom metabolisme, terutama di kalangan pria. Dukungan perawatan pun diperlukan untuk membantu pasien lajang dengan diabetes tipe 2 dalam mengelola berat badan mereka,” kata pemimpin penelitian, Dr Yoshinobu Kondo kepada Daily Mail.

Loading...
Previous ArticleNext Article